2/14/2023

Kau adalah matahari pagi

Tapi ini langit sore
Malam itu mata enggan terpejam. Bukan tanpa alasan, tingkah anehmu memaksaku untuk terus memperhatikanmu. Pertemuan ini terhitung dua kali sejak beberapa bulan yang lalu. Namun, kau seakan sudah lama kukenal. Aku begitu tertarik untuk terus memperhatikanmu. Candamu begitu akrab seakan tidak ada lagi kecanggungan perempuan terhadap laki-laki sepertiku.

Hari semakin larut, orang-orang disekitar kami berdua sudah terlarut dalam mimpi. Tanganmu masih di tangganku. Kau membuatku melupakan sesuatu yang pernah ada. Kau menawarkan cerita singkat yang pernah orang tuaku dulu ceritakan kepadaku. Dengan senang hati, kuceritakan hal yang sama kepadamu. Kau menyimakku dengan tatap mata yang sanyu seakan berkata "Aku mendengar ceritamu".

Masih begitu jelas di pertemuan yang pertama dulu, aku memperhatikanmu diam-diam. Melirikmu.
Dan aku yakin kau tahu itu, Walaupun kita tak saling bertutur sapa untuk sekedar berkenal nama. Dan pada akhirnya aku memutuskan pulang membawa tanda tanya tentangmu. Dibenakku saat itu, kau mungkin mengira aku orang yang aneh, karena selalu saja memperhatikanmu dengan senyum yang tidak jelas untuk siapa.

Dipertemuan yang kedua ini, kita didampingi bulan, bintang, bising binatang malam dan kau masih disampingku. Bertukar cerita, mengingat masa lalu kita masing-masing. Kutanyakan kepadamu untuk segera tidur, kau malah menatapku malu. Aku tak tau apa yang saat itu kau pikirkan. Sejenak obrolan kita terhenti, benakku terbang mengingat kejadian-kejadian tempo lalu yang tak sengaja teringat kembali, di kala itu kau tepat didepanku, dihadapan semua teman temanku, bukan karna mabuk, aku tak tau tiba tiba saja kau kupeluk dihadapan mereka semua.

Aku tak ingat sampai mana obrolan malaim itu, hari menjelang pagi, kini kita harus benar-benar masuk dan tidur. Kita berdua bergerak untuk masuk, antara celah mereka yang telah lelap, kau ku dekap, kau diam. Aku semakin tak ingat, tapi senyuman itu masing terbayang, "sudahlah tidur, besokkan mau bangun pagi" katamu sambil menutup wajah dengan sehelai baju. Mataku sulit untuk terpejam. Kau masih kupeluk, aku harus tidur.

Hari sudah terang ketika temanku yang lain membuka pintu, kau sudah tak disampingku, seharusnya kau masih disini, pagi itu kau tak ada, hanya sinar biasan cahaya pagi yang jelas dimataku. Aku bergegas bangun, mengganti pakaianku dan pulang kerumah, sepanjang perjalanan pulang aku tak tau matahari pagi begitu indah pagi ini. Hatiku riang tak tentu arah, aku tak tau rasa ini datang dari mana, kau seakan matahari pagi itu. Ia bersinar tapi tak terasa panas, hangatnya sama seperti pelukmu malam tadi. Aku terbuai.

Iya, pagi itu. Matahari seperti dirimu, kau seperti matahari. Aku tak sengaja mendeskripsikan dirimu dengan hal yang sebenarnya tak sama, itu tiba-tiba saja datang. Hari semakin siang, juga sama sepertimu yang semakin hilang. Sampai saat ini aku tak pernah menemuimu lagi, matahari pagi.

No comments:

Post a Comment